Saturday, 12 March 2016

SEJARAH KI HAJAR DEWANTARA (1889-1959) Pahlawan Pergerakan Nasional

SEJARAH KI HAJAR DEWANTARA (1889-1959)  Pahlawan Pergerakan Nasional



R.M. Suardi Suryaningrat, yang kemudian dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara, dilahirkan di Yogyakarta padatanggal 2 Mei 1889. Sesudah menamatkan Sekolah Dasar, melanjutkan pelajaran ke Stovia Jakarta, tetapi tidak sampai selesai. Kemudian bekerja sebagai wartawan, membantu surat kabar antara lain Sedyotomo, Midden Java, De Express dan utusan Hindia. Bersama-sama dengan Dowes Dekker dan dr. Cipto mangunkusumo, pada tanggal25 desember 1912 mendirikan Indiche Partij yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka. Dalam tahun 1913 ikut membentuk Komite Bumiputra. Melalui itu dilancarkan kritik terhadap pemerintah Belanda yang bermaksud merayakan seratus tahun bebasnya Negri Belanda dari penjajah Prancis. Karangannya yang berjudul Als Ik een Nedderlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda). berisi sindiran dan ancaman yang pedas. Akibatnya dalam bulan agustus 1913 ia di buang ke negri Belanda. Kesempatan itu digunakan untuk mendalami masalah pendidikan dan pengajaran, sehingga berhasil memperoleh Europeesche Akte.

Setelah kembali ke tanahair dalam tahun 1918, ia mencurahkan perhatian di bidang pendidikan. Pada tanggal 3 Juli 1922  di dirikannya taman siswa, sebuah perguruan yang bercorak nasional. Kepada anak didik ditanamkan rasa kebangsaan agar mereka mencintai bangsa dan tanah air dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Banyak rintangan yang dihadapi dalam membina taman siswa, antara lain adanya Ordonansi Sekolah Liar yang dikeluarkan oleh pemerintah Belanda. Tapi berkat perjuangan Ki Hajar Dewantara, ordonansi itu dicabut kembali.

Dalam zaman Pendudukan Jepang, kegiatan di bidang politik dan pendidikan tetap dilanjutkan. Waktu Pemerintah Jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putra) dalam tahun 1943, Ki Hajar Dewantara duduk sebagai salah seorang pimpinan di samping Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta dan K.H. Mas Mansur. Jabatan yang pernah dipegang setelah Indonesia merdeka ialah sebagai Mentri Pendidikan,  Pengajar dan Kebudayaan.

Ki Hajar Dewantara sikenal sebagai Bapak pendidikan nasional dan pendiri Taman Siswa. Ajarannya yang terkenal tut wuri handayani, ing madya mangun karsa, ing ngarsa suntulada, artinya: di belakang memberi dorongan, ditengah memberi teladan. Beliau meninggal dunia pada tangga 28 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di dana. Hari lahir beliau tanggal 2 Mei, diperingati sebagai Hari Pendidikan

Wednesday, 9 March 2016

SEJARAH SURYOPRANOTO (1871-1959) Pahlawan Pergerakan Nasional

SEJARAH SURYOPRANOTO (1871-1959)
Pahlawan Pergerakan Nasional

Suryopranoto dilahirkan di Yogyakarta dalam tahun 1871. Setelah memperoleh ijazah pegawai negri, ia bekerja di bidang pemerintahan, tetapi sering kali bertengkar dengan atasannya orang belanda. Pendidikan yang lain yang di tempuh ialah di Sekolah Pertanian di Bogor dan sesudah itu diangkat menjadi Kepala Dinas Pertanian di Wonosobo. Dalam tahun 1914 minta berhenti sebagai protes atas pemecatan seorang pegawai yang menjadi anggota Sarekat Islam, dang selanjutnya tidak mau lagi bekerja sebagi pegawai Pemerintah Belanda.

Suropranoto sangat memperhatikan nasib kaum tani, buruh tani si perkebunan tebu di Yogyakarta. Untuk membantu mereka, dalam tahun 1914 didirikan organisasi Adhi Dharma yang bergerak di bidang koperai, usaha pertukangan dan sebagainya. Selain itu didirikan pula HIS Adhi Dharma untuk mendidik anak-anak petani buruh. Tuntunan-tuntunan yang di lancarkannya agar para majikan menaikan upah buruh dan memberikan jaminan sosial yang layak, dianggap revolusioner. Karena itu  ia dihalang-halangi berbicara di depan para buruh dan tani, bahkan pengusaha Belanda bersedia memberi uang asal mau menghentikan kegiatannya.

Dalam Sarekat Islam, Suryopranoto menduduki jabatan sebagai anggota Pengurus Besar. Selain itu juga menjadi pemimpin kaum buruh yang tergabung salam Personnel Fabriek Bond (PFB). Dalam Kongres Sarikat Islam tahun 1919, ia mengajukan pemogokan sebagai kekuatan buruh untuk menuntut perbaikan pemogokan sebagaisebagai kekuatanburuh untuk menuntut perbaikannasib.Karena iyu ia terkaewnal sengan julukan De Stakingskoning (Raja Pemogokan). Dalam tahun 1922 terjadi pemogokan kaum buruh pengadilan di yogykarta dan kemudian menjalar ke tempat tempat lain. Ribuan buruh di pecat akibat pemogokan itu. Suryopranoto mendirikan sebuah badan untuk menolong keluarga buruh yang terkena pemecatan itu.

Karena kegiatan-kegiatan itu, tiga kali iah harus masuk penjara. Dalam tahun1923 di penjara di Malang, dalam tahun 1926 di Semarang dan dalam tahun 1933 di Sukamiskin, Bandung. kegiatan lain ialah bidang kewartawanan. Hasil karyanya berupa seri ensiklopedi tentang perjuangan sosialisme, disita dan dilarang beredar oleh pemerintah Belanda.
Dalam zaman pendudukan Jepang, Suryo pranoto menolak bekerjasama dengan Pemerintah Jepang. Sesudah Indonesia merdeka ia menyumbangkan tenaga bidang pendidikan. Salam masa itu pula terbit bukunya yang berjudul Pengantar Ilmu Politik. Beliau meninggal dunia pada tanggal 15 Oktober 1959 di Ciamih, Jawa Barat dan dimakamkan di kota Gede, Yogyakarta.